Tuesday, April 10, 2012

Letnan Satu Udara Syamsuddin Noor

1 comments

Tidak banyak warga Kalimantan Selatan tahu tentang pejuang yang satu ini. Walaupun namanya kemudian menjadi nama bandar udara terbesar di Kalimantan, namun kisah hidupnya masih tertutup oleh minimnya catatan sejarah lokal Kalimantan Selatan. Ini dampak yang terasa akibat dominannya pencatatan sejarah di daerah Jawa.
Letnan Udara Moehammad Sjamsoeddin Noor, lahir di Alabio (Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan), tanggal 5 November 1924. Ayahnya adalah seorang ulama dan aktif di pergerakan nasional yaitu H. Abdul Gaffar Noor, sedangkan ibunya Hj. Putri Ratna Wilis juga aktif di pergerakan berbasis keagaamaan.
Aktivitas sang ayah yang aktif di pergerakan, membawa keluarga ini hijrah ke Batavia, sehingga Moehammad Sjamsoeddin Noor menghabiskan masa pendidikannya di Batavia. Pada tahun 1939 Moehammad Sjamsoeddin Noor lulus dari HIS Batavia, kemudian dilanjutkan ke MULO Bogor lulus tahun 1942. Kemudian dilanjutkan lagi AMS Jogjakarta lulus tahun 1945.
Pada tahun 1945, seluruh pemuda Indonesia bersiap untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja di proklamasikan. Pemuda Moehammad Sjamsoeddin Noor pun terpanggil untuk membela negara dengan memasuki Akademi Militer Jogjakarta. Setahun di akademi, diteruskan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang. Negara kembali menugaskan Moehammad Sjamsoeddin Noor untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Penerbang di India dan Burma. Selama tiga tahun pendidikan ini beliau jalani dengan kedisiplinan, sehingga setelah lulus beliau dipercaya untuk menerbangkan pesawat angkut dan pesawat tempur AURI. Bergabungnya Moehammad Sjamsoeddin Noor ke barisan pilot pesawat tempur AURI menambah kekuatan militer Indonesia kala itu, dikarenakan masih langkanya tenaga pilot pesawat tempur.
Pada hari Minggu, tanggal 26 November 1950, Moehammad Sjamsoedin Noor menjalankan tugas negara menerbangkan pesawat Dakota 446 milik AURI dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat. Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 Kilometer dari Malang Bong, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Seluruh awak pesawat termasuk M. Sjamsoedddin Noor gugur sebagai pahlawan.
Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa. M. Sjamsudin Noor wafat di usia muda 26 tahun. Sebagai jasanya beliau dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways
Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970, Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor.
Dipilihnya Sjamsudin Noor sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud), juga melalui proses panjang. Setidaknya ada 3 pilihan nama pahlawan baik sipil maupun militer yang diusulkan kala itu. Masing-masing Komodor Udara Supadio, Pangeran Antasari dan Sjamsoedin Noor sendiri. Melalui SK DPRD Kalsel, diputuskan nama Sjamsoedin Noor menggantikan Landasan Udara Oelin pemberian nama dari Belanda dan Jepang. 

Landasan Udara Oelin tahun 1936, yang mendarat adalah maskapai KLM Netherland.


Bandar Udara Syamsudin Noor sekarang.


Sunday, October 16, 2011

Sumpah Pemuda di Kalimantan Selatan

0 comments
Pada tanggal 28 Oktober 1928 yang lalu, pemuda-pemuda seluruh nusantara berkumpul dalam rangka membangun nasionalisme Indonesia. Termasuk juga pemuda-pemuda Kalimantan yang telah lama berada di Jawa. Pada Konggres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928, hadir perwakilan Pemuda Banjar yaitu Masri dan perwakilan Pemuda Dayak, G. Obus. Hasilnya disepakati 3 keputusan yang sangat menentukan arah perjuangan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.
Sejak itulah, semangat kebangsaan dihembuskan pemuda-pemuda yang kembali ke daerah masing-masing. Di Kalimantan pun berdiri kelompok-kelompok pemuda yang bertujuan untuk membangkitkan nasionalisme di detiap lapisan masyarakat. Di Marabahan, dibentuk Serikat Kalimantan yang merupakan peleburan dari Persatuan Pemuda Marabahan pada 1930 dengan ketua M. Ruslan. Di Banjarmasin dibentuk Barisan Indonesia yang melaksanakan konggres di Banjarmasin pada 27 - 29 April 1934. Konggres Bindo ini sebenarnya sudah dilarang oleh PID (Polisis Rahasia Belanda), namun para pemuda nekat melaksanakannya dengan penaikan bendera merah putih, baik di dalam ruangan maupun di halaman gedung. Selain itu, lagu Indonesia Raya dikumandangkan secara gegap gempita oleh peserta konggres.
Di Birayang, didirikan Gerakan Indonesia (Gerindo) oleh H. Busri dan M. Nawawi tahun 1938, yang merupakan cabang dari Gerindo Pusat yang didirikan oleh dr. Abdul Gani Kapau di Jakarta.
Tidak ketinggalan para sopir, mereka sepakat ikut mendirikan Bond Indonesisce Chauffeur (BIC) Cabang Kalimantan dengan ketua Mr. Tajuddin Noor. Anngota BIC memiliki kartu anggota dengan warna merah putih dengan gambar logo organisasi. Pada Konggres BIC tahun 1939, salah satu hasilnya adalah meneruskan Sumpah Pemuda sebagai kesepakatan seluruh sopir.

Wednesday, October 12, 2011

Pergerakan Kebangkitan Nasional di Kalimantan Selatan

0 comments
  • Seri Budiman
Didirikan tahun 1901 oleh Amir Hasan Kyai Bondan di Banjarmasin. Seri Budiman merupakan organisasi social yang banyak mendukung ke arah pendidikan barat, persatuan kaum dagang dan petani, serta hubungan antar anggota. Seri Budiman bubar tahun 1903 karena anggotanya pindah domisili.
  • Budi Sempurna
Organisasi ini merupakan organisasi social yang didirikan tahun 1904 oleh Muhammad Zamzam di Banjarmasin.
  • Indra Buana
Merupakan peleburan dari Budi Sempurna yang didirikan pada 1906, dengan anggota dan tujuan organisasi yang sama. Tahun 1907, Indra Buana dibubarkan.
  • Serikat Islam (SI)
Didirikan tahun 1912 oleh H. M Arif  dan Sosrokardono. SI mendapat keputusan Besluit Gubernur Jenderal No. 33.pada 30 September 1914. SI bergerak di bidang ekonomi, social, agama dan kebangsaan. Pada tahun 1919, HOS Tjokroaminoto datang ke Banjarmasin dalam rangka membenahi SI yang hampir beku kegiatan.
Pada tahun 1923 dan 1924 diadakan Nationaal Borneo Konggres I dan II yang diikuti oleh Afdeling Borneo Selatan dan Timur, serta perwakilan Dayak, konggres ini menghasilkan Mosi Keberatan terhadap kebijakan Belanda bagi rakyat.
  • Serikat Dagang Borneo
Didirikan tahun 1912 oleh Serikat Islam dengan tujuan untuk mengangkat ekonomi rakyat dan melawan monopoli dagang Cina dan Belanda.
  • Serikat Pelayaran
Sebuah usaha pengangkutan sungai yang dibentuk oleh serikat Islam untuk melawan dominasi Cina dalam pengangkutan sungai
  • Serikat Dagang
Didirikan tahun 1912 oleh Serikat Islam. Pembentukan Serikat Dagang bersamaan dengan Serikat Pelayaran, yang berupaya mengangkat tingkat ekonomi masyarakat dan melawan monopoli Cina.
  • Serikat Tani Lokpaikat
Didirikan tahun 1917 di Lokpaikat, Tapin. Usahanya adalah menanam kopi, kelapa, jeruk dan karet.
  • Persatuan Putera Barabai
Didirikan oleh H. Hasan Basri.
  • Handel
Serikat dagang yang didirikan orang Alabio untuk melawan monopoli Cina dalam perdagangan karet.
  • Dunia Isteri
Organisasi wanita SI yang dibentuk tahun 1923 di Banjarmasin, dengan ketua Siti Masiah.
  •  Serikat Harta
Didirikan oleh Muhammad Arif, dengan tokoh A. Sangaji, Kyai Kedah dan Amir Hasan Kyai Bondan. Bertujuan untuk mengumpulkan modal dan mendirikan koperasi. Serikat Harta akhirnya berubah menjadi Koperasi Serikat Harta.
  • Persatuan Putera Borneo
Dibentuk pada 1929 di Banjarmasin oleh Abdul Kadir, dengan kegiatan di bidang ekonomi, social dan kebangsaan.
  •  Borneo Padvinder Organisatie (BPO)
Organisasi ini adalah kepanduan yang dibentuk oleh guru-guru PHIS di Marabahan. Selanjutnya organisasi ini dilebut menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia.
  • Persatuan Pemuda Marabahan
Dibentuk pada 1 Maret 1929 di Marabahan dengan ketua M. Ruslan, dan pengurus Suriadi dan Mawardi. Kegiatannya adalah membuka taman bacaan dengan isi surat kabar dan majalah.
  • Gementeraad Bandjermasin (Dewan Kota Banjarmasin)
Anggotanya berasal dari penunjukan dan pemilihan. Pelantikan Anggota Dewan Kota Banjarmasin dilakukan pada 18 November 1930.
  • Serikat Kalimantan
Didirikan tahun 1930 di Marabahan dengan ketua M. Ruslan. Serikat Kalimantan merupakan peleburan dari Persatuan Pemuda Marabahan, sebagai syarat untuk masuk ke Indonesia Muda hasil Konggres Pemuda II. Pengurus organisasi ini adalah M. Ruslan, A. gani, A. Sunhaji, Sabran, Tambi, Matran, H. Basirun, Sabran B, dan Muhiddin.
Konggres I tahun 1930 diadakan di Rumah Bulat, Marabahan, yang diikuti cabang Barabai, Amuntai, Kandangan dan Banjarmasin. Kemudian Konggres II tahun 1931 di Barabai, yang menghasilkan peleburan Serikat Kalimantan menjadi Barisan Indonesia (Bindo) dengan ketua H. M Arif.
  • Barisan Indonesia (Bindo)
Hasil leburan dari Sarekat Kalimantan setelah Konggres ke-2 di Barabai tahun 1931. Organisasi ini berasaskan kebangsaan dan tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Pada 27 – 29 April 1934 diadakan Konggres Pertama di Banjarmasin, dengan acara penaikan bendera mearh putih di luar dan di dalam gedung, walaupun mendapat larangan dari PID (polisi reserse Belanda)
  • Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Gerindo Kalsel didirikan oleh H. Busri dan M. Nawawi di Birayang tahun 1938, yang disahkan langsung oleh Gerindo Pusat, yaitu dr. Abdul Gani Kapau
  • Bond Indonesisce Chauffeur (BIC)
BIC adalah organisasi Persatuan Sopir Seluruh Indonesia. Untuk wilayah Kalimantan Selatan diketuai oleh Ahmad Zakaria di Banjarmasin. Pada Konggres I BIC di Malang tahun 1939, BIC Kalsel diwakili oleh Mr. Tajudin Noor. Organisasi ini bertema merah putih dan meneruskan sumpah pemuda tahun 1928.
  • Gabungan Politik Indonesia (GAPI)
GAPI Kalsel pada tahun 1939 merupakan gabungan dari Parindra, Gerindo, PSII, PII, Musyawaratuttalibin, NU dan Muhammadiyah.
  • Borneo Kaikjo Kjokai (Jami’ah Islamiyah Borneo)
Organisasi ini dibentuk pemerintah Jepang dan diketuai oleh KH. Abdurrahman Sidik yang diawasi oleh ulama-ulama Islam dari Jepang.
  • Persatuan Rakyat Indonesia (PRI)
Dibentuk pada 16 Agustus 1945 di Gedung Osaka Gekijo, banjarmasin, dengan ketua Pangeran Musa Ardikesuma dan pengurus A. ruslan, Hadhariyah. M, Abu Bakar, Abdul latif dan Amir Hasan Bondan

Thursday, December 2, 2010

Banjarbaroe tempo doeloe

1 comments
Beberapa foto Banjarbaru tempo dulu, didapat dari situs jejaring sosial yang berasal dari koleksi Keluarga van der Pijl dan koleksi Musium Tropen Belanda.

Perancang kota Banjarbaru, Mr. van der Pijl, seorang pegawai Kantor PU yang ditugaskan Gubernur Moerdjani untuk merancang sebiah kota yang akan di plot menjadi ibukota Propinsi Kalimantan waktu itu

Pengerjaan pembangunan Kantor Gubernur (sekarang Kantor Walikota Banjarbaru) yang dilengkapi dengan ruangan bawah tanah

SMA Negeri Banjarbaru

Masjid Hidayatul Muhajirin

Pasar Banjarbaru

Kantor PLN Wilayah Kalselteng

Poliklinik Banjarbaru, ... apakah sekarang RSUD Banjarbaru.

SMP Negeri 1 Banjarbaru

SPMA Banjarbaru ... sekarang SMKN PP Banjarbaru

Sekolah Rakyat Banjarbaru

Penambangan intan di Cempaka tahun 1937

Penambangan intan rakyat di Cempaka tahun 1950

Lapangan Oelin tahun 1936 ketika didarati pertama kali oleh pesawat KLM Netherland, sekarang menjadi Bandara Syamsudin Noor

Mars Banjarbaru

3 comments
Ciptaan : M. Amin

Banjarbaru, kota idaman
kotanya indah, aman dan nyaman
masyarakatnya, tertib dan sopan
taat ibadah, taqwa dan beriman


kota ini, ramah lingkungan
tertata rapi dihiasi taman
lapangan Murjani dan perkantoran
kebanggaan kota pendidikan


di Cempaka menghasilkan intan
Landasan Ulin sentra perdagangan
Syamsudin Noor bandara kebanggaan
siap menyambut tamu yang datang


simpang empat, ada bundaran
penghias kota asri dan menawan
sejauh-jauh mata memandang
Banjarbaru kan selalu dikenang

Friday, November 12, 2010

Legenda Batu Bangkai

1 comments
Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Di daerah ini terdapat sebuah gunung yang memiliki nama yang cukup unik, yaitu Gunung Batu Bangkai. Masyarakat setempat menamakannya demikian, karena di gunung tersebut ada sebuah batu yang mirip dengan bangkai manusia. Konon, kehadiran batu bangkai tersebut berasal dari sebuah cerita legenda yang sampai saat ini masih berkembang di kalangan masyarakat Banjar Hulu di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Cerita legenda ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Andung Kuswara yang durhaka kepada umanya. Karena kedurhakaannya, Tuhan menghukum si Andung menjadi batu.

Konon pada zaman dahulu, di suatu tempat di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Andung Kuswara. Ia seorang anak yang baik dan pintar mengobati orang sakit. Ilmu pengobatan yang ia miliki diperoleh dari abahnya yang sudah lama meninggal. Andung dan umanya hidup rukun dan saling menyayangi. Setiap hari mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Andung mencari kayu bakar atau bambu ke hutan untuk membuat lanting untuk dijual, sedangkan umanya mencari buah-buahan dan daun-daunan muda untuk sayur.

Suatu hari, Andung pergi ke hutan seorang diri. Karena keasyikan bekerja, tak terasa waktu telah beranjak senja, maka ia pun bergegas pulang. Di tengah perjalanan, ia mendengar jeritan seseorang meminta tolong. Andung segera berlari menuju arah suara itu. Ternyata, didapatinya seorang kakek yang kakinya terjepit pohon. Andung segera menolong dan mengobati lukanya. “Terima kasih banyak, anakku!” kata orang tua itu. Dia kemudian mengambil sesuatu dari lehernya. “Hanya benda ini yang dapat kai berikan sebagai tanda terima kasih. Mudah-mudahan kalung ini membawa keberun¬tungan bagimu,” ucap kakek itu seraya mengulurkan sebuah kalung kepada Andung. Setelah mengobati kakek itu, Andung bergegas pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah, Andung menceritakan kejadian tadi kepada umanya. Usai bercerita, Andung menyerahkan kalung pemberian kakek itu sambil berkata, “Uma, tolong simpan kalung ini baik-baik”. Umanya menerima dan memerhatikan benda itu dengan saksama. “Sepertinya ini bukan kalung sembarangan, Nak. Lihatlah, sungguh indah!” kata Uma Andung dengan takjub. Setelah itu, Uma Andung menyimpan kalung tersebut di bawah tempat tidurnya.

Kehidupan terus berjalan. Pada suatu hari, Andung terlihat termenung seorang diri. “Ya Tuhan, apakah kehidupanku akan seperti ini selamanya? Aku ingin hari depanku lebih baik daripada hari ini. Tapi…bagaimana caranya?” kata Andung dalam hati. Sejenak ia berpikir mencari jalan keluar. Tiba-tiba, terlintas dalam pikiran Andung untuk pergi merantau. “Hmm…lebih baik aku merantau saja. Dengan begitu aku dapat mengamalkan ilmu pengobatan yang telah aku peroleh dari abah dulu. Siapa tahu dengan merantau akan mengubah hidupku,” gumam Andung dengan semangat. Namun, apa yang ada dalam pikirannya tidak langsung ia utarakan kepada umanya. Rasa ragu masih menyelimuti hati dan pikirannya. Jika ia pergi merantau, tinggallah umanya sendiri. Tetapi, jika ia hanya mencari kayu bakar dan bambu setiap hari, lalu kapan kehidupannya bisa berubah. Pikiran-pikiran itulah yang ada dalam benaknya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Andung benar-benar sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Keraguannya untuk meninggalkan umanya pun lenyap. Dorongan hati Andung untuk merantau sudah tak terbendung lagi. Suatu hari, ia pun mengutarakan maksud hatinya kepada umanya. “Uma, Andung ingin mengubah nasib kita. Andung memutuskan untuk merantau ke negeri seberang. Oleh karena itu, Andung mohon izin dan doa restu, Uma,” kata Andung dengan hati-hati memohon pengertian umanya. “Anakku, sebenarnya Uma sudah bersyukur dengan keadaan kita saat ini. Tetapi, jika keinginan hatimu sudah tak terbendung lagi, dengan berat hati Uma akan melepas kepergianmu,” sahut Uma Andung memberikan izin.

Setelah mendapat restu dari umanya, Andung segera berkemas dengan bekal seadanya. Andung membawa masing-masing sehelai kain, baju dan celana. Memang hanya itu yang ia miliki. Ketika Andung hendak meninggalkan gubuk reotnya, Uma berpesan kepadanya. “Andung ..., ingatlah Uma! Ingat kampung halaman dan tanah leluhur kita. Jangan pernah melupakan Tuhan Yang Mahakuasa. Walau berat, Uma tak bisa melarangmu pergi. Jika takdir menghendaki, kita tentu akan berkumpul kembali,” kata sang Uma dengan sedihnya.

Mendengar nasihat umanya, Andung tak kuasa menahan air matanya. “Andung, bawalah kalungmu ini. Siapa tahu kelak kamu memerlukannya,” ujar Uma Andung melanjutkan. Setelah menerima kalung itu, Andung kemudian berpamitan kepada umanya. Andung mencium tangan umanya, lalu umanya membalasnya dengan pelukan erat. Sesaat, suasana haru pun meliputi hati keduanya. Ketika Uma memeluk Andung, beberapa tetes air mata menyucur dari kelopak matanya, jatuh di atas pundak Andung. “Maafkan Andung, Uma! Andung berjanji akan segera kembali jika sudah berhasil,” kata Andung memberi harapan kepada umanya. “Iya Nak. Cepatlah kembali kalau sudah berhasil! Hanya kamulah satu-satunya milik Uma di dunia ini,” jawab Uma penuh harapan. Beberapa saat kemudian, Uma berucap kepada Andung. “Segeralah berangkat Andung, agar kamu tak kemalaman di tengah hutan.”

Andung mencium tangan umanya untuk terakhir kalinya, lalu pamit. Andung berangkat diiringi lambaian tangan Uma yang sangat dikasihinya. “Selamat jalan, anakku. Jangan lupa cepat kembali,” teriak Uma dengan suara serak. “Tentu, Uma!” sahut Andung sambil berjalan menoleh ke arah umanya. “Jaga diri baik-baik, Uma! Selamat tinggal! Uma baru beranjak dari tempatnya setelah Andung yang sangat disayanginya hilang di balik pepohonan hutan. Sejak itu, tinggallah Uma Andung sendirian di tengah hutan belantara.

Berbulan-bulan sudah Andung meninggalkan umanya. Andung terus berjalan. Banyak kampung dan negeri telah dilewati. Berbagai pengalaman didapat. Ia juga telah mengobati setiap orang yang memerlukan bantuannya.

Suatu siang yang terik, tibalah Andung di Kerajaan Basiang yang tampak sunyi. Saat menyusuri jalan desa, Andung bertemu dengan seorang petani yang kulitnya penuh dengan koreng dan bisul. Andung kemudian mengobati petani itu. Dari orang tersebut Andung mengetahui jika Negeri Basiang sedang tertimpa malapetaka berupa wabah penyakit kulit. Karena berhutang budi kepada Andung, orang itu mengajak Andung tinggal di rumahnya. Setiap hari, penduduk yang terjangkit penyakit berdatangan ke rumah orang tua itu untuk berobat kepada Andung. Seluruh penduduk yang telah diobati oleh Andung sembuh dari penyakitnya. Berita perihal kepandaian Andung dalam mengobati pun menyebar ke seluruh negeri.

Suatu hari, berita kepandaian Andung mengobati penyakit tersebut akhirnya sampai ke telinga Raja Basiang. Sang Raja pun mengutus hulubalang menjemput Andung untuk mengobati putrinya. Beberapa lama kemudian, hulubalang tersebut sudah kembali ke istana bersama Andung. Andung yang miskin dan kampungan itu sangat takjub melihat keindahan bangunan istana. Ia berjalan sambil mengamati setiap sudut istana yang dihiasi ratna mutu manikan. Tak disadari, ternyata sang Raja sudah ada di hadapannya. Andung pun segera memberi salam dan hormat kepadanya. “Salam sejahtera, Tuanku,” sapa Andung kepada Baginda.

Sang Raja menyambut Andung dengan penuh harapan. Dia kemudian menyampaikan maksudnya kepada Andung. “Hai anak muda! Ketahuilah, putriku sudah dua minggu tergolek tak berdaya. Semua tabib di negeri ini sudah saya kerahkan untuk mengobatinya, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Apakah kamu bersedia menyembuhkan putriku?” tanya sang Raja. “Hamba hanya seorang pengembara miskin. Pengetahuan obat-obatan yang hamba miliki pun sedikit. Jika nantinya hamba gagal menyembuhkan Tuan Putri, hamba mohon ampun Paduka,” kata Andung merendah.

Andung pun dipersilakan masuk ke kamar Putri. Putri tergolek kaku di atas pembaringannya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya tertutup rapat. Walupun pucat pasi, wajah sang Putri tetap memancarkan sinar kecantikannya. “Aduhai, cantik sangat sang Putri,” ucap Andung menaruh hati kepada sang Putri. Sesaat kemudian, Andung pun mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membangunkan sang Putri. Namun, sang Putri tetap tak bergerak. Andung mulai panik. Tiba-tiba, hati Andung tergerak untuk mengambil kalung pemberian kakek yang ditolongnya dulu. Andung meminta kepada pegawai istana agar disiapkan air dalam mangkuk. Setelah air tersedia, lalu Andung segera merendam kalungnya beberapa saat. Kemudian air rendaman diambil dan dibacakan doa, lalu ia percikkan beberapa kali ke mulut sang Putri. Tak berapa kemudian, sang Putri pun terbangun. Matanya yang kuyu perlahan-lahan terbuka. Wajahnya segar kembali. Akhirnya, Putri dapat bangkit dan duduk di pembaringan.

Semua penghuni istana turut bergembira dan merayakan kesembuhan sang Putri. Paduka Raja sangat berterima kasih atas kesembuhan putri satu-satunya yang sangat ia cintai Atas jasanya tersebut, Andung kemudian dinikahkan dengan sang Putri. Pesta perkawinan dilaksanakan tujuh hari tujuh malam. Semua rakyat bersuka ria merayakannya. Putri tampak berbahagia menerima Andung sebagai suaminya. Demikian pula Andung yang sejak pandangan pertama sudah jatuh cinta pada sang Putri. Mereka berdua melalui hari-hari dengan hidup bahagia.

Minggu dan bulan terus berganti. Istri Andung pun hamil. Dalam kondisi hamil muda sang Putri mengidam buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya kepada sang Putri begitu besar, Andung pun mengajak beberapa hulubalang dan prajurit untuk ikut bersamanya mencari buah kasturi ke Pulau Kalimantan.

Setibanya di Pulau Kalimantan, Andung berangkat ke daerah Loksado untuk mencari sebatang pohon kasturi yang dikabarkan sedang berbuah di sana. Alangkah terkejutnya Andung, karena pohon kasturi itu berada tepat di depan rumahnya dulu. Andung segera mengajak hulubalang dan para prajuritnya kembali. Rupanya ia tidak mau bertemu dengan umanya.

Mendengar keributan di luar rumahnya, seorang nenek tua renta berjalan terseok-seok menuju ke arah rombongan tersebut. “Andung..., Andung Anakku...!” suara nenek tua yang serak memanggil Andung. Dengan terbungkuk-bungkuk nenek itu mengejar rombongan Andung.

Andung menoleh. Ia tersentak kaget melihat sang Uma yang dulu ditinggalkannya sudah tua renta. Karena malu mengakui sebagai umanya, Andung membentak, “Hai nenek tua! Aku adalah raja keturunan bangsawan. Aku tidak kenal dengan nenek renta dan dekil sepertimu! ujar Andung kemudian memalingkan muka dan pergi.

Hancur luluh hati sang Uma dibentak dan dicaci maki oleh putra kandungnya sendiri. Nenek tua yang malang itu pun berdoa, “Ya, Tuhan Yang Mahakuasa, tunjukkanlah kekuasaan dan keadilan-Mu,” tua renta itu berucap pelan dengan bibir bergetar. Belum kering air liur tua renta itu berdoa, halilintar sambar-menyambar membelah bumi. Kilat sambung-menyambung. Langit mendadak gelap gulita. Badai bertiup menghempas keras. Tak lama kemudian, hujan lebat tumpah dari langit. Andung berteriak dengan keras, “Maafkan aku, Uma...!” Tapi siksa Tuhan tak dapat dicabut lagi. Tiba-tiba Andung berubah menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Sejak itu, penduduk di sekitarnnya menamai gunung tempat peristiwa itu terjadi dengan sebutan Gunung Batu Bangkai, karena batu yang mirip bangkai manusia itu berada di atas gunung. Gunung Batu Bangkai ini dapat dijumpai di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Lanting : rakit kecil.
Uma : ibu
Kai : kakek
Abah : ayah

Sumber : Sumber Cerita

Friday, October 15, 2010

Bakisah

1 comments
Bakisah (bercerita) merupakan salah satu hiburan tradisional masyarakat Banjar yang saat ini sudah tersisih akibat kemajuan jaman.


Download bakisah (mp3) :

Bakisah 1
Bakisah 2
Bakisah 3
Bakisah 4
Bakisah 5
Bakisah 6
Bakisah 7
Bakisah 8
Bakisah 9
Bakisah 10
Bakisah 11
Bakisah 12
Maaf link file mp3 Bakisah masih diperbaiki.


Download video :
Bakisah 1



Bakisah 2



Bakisah 3



Bakisah 4



Bakisah 5



Bakisah 6



Bakisah 7



Bakisah 8



Bakisah 9



Bakisah 10