Monday, May 10, 2010

Pertempuran Hambawang Pulasan (1)

4 comments
Hambawang Pulasan terletak di Kampung Telang Kecamatan Batang Alai Utara, HST. Hambawang Pulasan merupakan jalur padat transportasi dari Barabai ke Batu Mandi - Paringin, sehingga kawasan ini sering dijadikan daerah penghadangan patroli Belanda. Kawasan tersebut masih berupa hutan pohon karet, selain itu jalannya berliku dan menanjak karena termasuk daerah pegunungan. Posisi wilayah ini sangat strategis sebagai tempat penyanggulan/ pencegatan oleh para pejuang terhadap Militer Belanda yang memanfaatkan jalan tersebut baik untuk mengangkut bahan makanan maupun mensuplai pasukan dan persenjataan.
Rencana penyanggulan/pencegatan terhadap Militer Belanda dirumuskan di rumah Utuh Engkong di Kampung Rantauan Birayang. Rapat langsung dipimpin oleh Abdurraman Karim (AR.HAKA) yang merupakan Komando Umum GERPINDOM/ TRI PS MN 1001. Rapat juga dihadiri oleh H. Aberani Sulaiman Wakil II Komandan Komando Umum dan beberapa pejuang lainnya seperti H. Damanhuri, Made Kawis, Jamhar, Hamdi Idar, Tuhani ( Utuh Dungkuk), Jahri, Karim, Sapar/Ancau (Daeng Ladjida), Bunjamin, Taberi, Buseri, Rusli Panangah, Japeri dan beberapa anggota GERPINDOM lainnya. Dalam rapat tersebut disepakati untuk melakukan penyanggulan/ pencegatan terhadap Militer Belanda di Hambawang Pulasan. Selain itu disepakati juga bahwa hanya 12 orang yang ikut dalam penyanggulan/ pencegatan Militer Belanda tersebut. Kedua belas pejuang tersebut adalah H. Aberani Sulaiman dengan senjata Owen Gun, Made Kawis bersenjata Owen Gun, H. Damanhuri bersenjatakan Tompson Gun, Jamhar bersenjatakan Owen Gun, Sapar (Daeng Ladjida) bersenjatakan Karabyn US/LE,Hamdi Idar bersenjatakan Karabyn US/LE, M. Suni bersenjatakan pistol, Ibur, Tuhani (Utuh Dungkuk), Karim, Jahri, dan Utuh Kandangan.
Hari Kamis pagi, sekitar pukul 07.00 Wita pada pertengahan Mei 1947 atau tanggal 18 Ramadhan. Setelah melalui perjalanan panjang, para pejuang yang dipimpin H. Aberani Sulaiman tiba di Hambawang Pulasan. Sambil beristirahat H. Aberani Sulaiman memberikan penjelasan kepada pasukannya dan membagi pasukan menjadi dua bagian. Satu bagian berada pada posisi di atas gunung yang dipimpin langsung oleh H. Aberani Sulaiman dengan anggota terdiri dari Jamhar, Sapar/Ancau (Daeng Ladjida), Hamdi Idar dan Utuh Kandangan. Sedangkan kelompok kedua berada pada posisi bagian kiri dan kanan jalan yang menanjak dipimpin oleh H. Damanhuri yang beranggotakan 6 orang, yaitu Made Kawis, M. Suni, Ibur, Karim dan Jahri serta Tuhani ( Utuh Dungkuk).
Setelah berjam-jam menunggu, tepatnya pukul 10.00 Wita terdengar dari kejauhan suara mobil truk. H. Aberani Sulaiman memberi aba-aba agar para pejuang bersiap. Dan ternyata benar dari kejauhan tampak sebuah truk Militer Belanda yang berisi penuh dengan Militer Belanda berdiri lengkap dengan persenjataan modern datang dari arah Batu Mandi menuju Barabai. Dua orang duduk di depan yaitu sopir dan pimpinan pasukan. Para pejuang sudah mulai bersiap dan tinggal menunggu aba-aba dan perintah tembak dari H. Aberani Sulaiman, sementara mobil truk mulai menaiki tanjakan berjalan dengan lambat. Pada saat mobil truk sudah hampir mendekat pada puncak tanjakan, seketika H. Aberani Sulaiman memberikan aba-aba penyerangan.
Dengan serentak para pejuang keluar dari persembunyiannya dan langsung mencegat mobil truk Militer Belanda sambil menembakkan senjata. Pasukan Militer Belanda terkejut dan tidak menduga, mendapat serangan mendadak dan gempuran senjata Owen Gun, Tompsom Gun, Karabyn US/LE dan pistol dari para pejuang. Serangan mendadak tersebut membuat Militer Belanda kelabakan dan tak berkutik. Kepanikan Militer Belanda makin bertambah ketika keadaan mobil truk yang mereka tumpangi mulai goyang sebab sopirnya terkena sasaran peluru yang dibidikkan H. Aberani Sulaiman, sehingga membuat mobil tersebut tak terkendali lagi dan akhirnya terbalik. Sementara para pejuang terus menembaki Militer Belanda yang dalam keadaan panik terus berusaha mengadakan perlawanan, namun tak berhasil.
Melihat pasukan Militer Belanda banyak yang tewas, Made Kawis langsung turun dari atas gunung dan berusaha mendekati mobil truk yang terbalik dengan maksud untuk mengambil senjata Bren Gun milik Belanda. Namun begitu Made Kawis berada di atas truk dan belum sempat mengambil senjata tersebut, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang mengarah kepada Made Kawis yang membuat ia tersungkur berlumur darah. Sebuah mobil truk yang berisi tentara KNIL Belanda yang datang kemudian langsung menghujani tembakan dan tepat mengenai tubuh Made Kawis sehingga ia luka tembak yang sangat parah.
Melihat Made Kawis tersungkur berlumur darah H. Aberani Sulaiman dan para pejuang lainnya langsung membawa dan menyelamatkan Made Kawis sambil terus menyerang Militer Belanda. Maka terjadilah pertempuran jarak dekat antara Militer Belanda dengan para pejuang. Sementara dari arah bawah terdengar deru mobil truk tambahan lengkap dengan pasukan Militer Belanda yang langsung menyerang para pejuang dari segala arah. Kontak senjata yang tidak seimbangpun terjadi. Para pejuang sudah mulai terdesak dan agak kewalahan. Melihat kondisi pertempuran yang tidak seimbang, H. Aberani Sulaiman memerintahkan kepada pasukannya untuk mundur secara berpencar sambil menyelamatkan Made Kawis.
Mundurnya pasukan para pejuang yang dipimpin H. Aberani Sulaiman membuat Militer Belanda kesulitan untuk mengejar dan akhirnya mereka kembali untuk mengurus teman-teman mereka yang tewas. Dari pertempuran tersebut tercatat 48 orang Militer Belanda yang tewas. Sementara para pejuang setelah mundur dengan berpencar yaitu H. Damanhuri dan kawan-kawan menuju Birayang dan malamnya langsung menuju Goa Kudahaya yang saat itu sudah ditunggu Abdurahman Karim (A.R.HAKA) dan Japeri. Sementara H. Aberani Sulaiman dan Tuhani (Utuh Dungkuk) setelah bersembunyi di Tapuk Birayang, siangnya sekitar pukul 10.00 Wit baru datang ke Goa Kudahaya.
Adapun Made Kawis dan Utuh Kandangan dalam persembuyiannya dikepung oleh Belanda. Dalam keaadaan terjepit, Utuh Kandangan berhasil meloloskan diri sedangkan Made Kawis tertembak sehingga gugur sebagai pahlawan. Persembuyian Utuh Kandangan dan Made Kawis ternyata akibat mata-mata Belanda yang bernama H. Halabi. H. Abdurrahman Karim (A.R.HAKA) menerima kabar bahwa Made Kawis gugur di pelarian akibat diterjang peluru Militer Belanda, langsung berangkat ke Birayang dan berhasil menangkap H. Halabi dan membunuhnya di Kampung Ipil Djati Simpang Tiga Birayang.
Kematian Made Kawis ternyata bukannya menyurutkan semangat para pejuang untuk berjuang membela tanah air, malah semakin menggelorakan semangat juang untuk merebut kemerdekaan dari para penjajah. Apalagi dengan penyanggulan/ pencegatan di Hambawang Pulasan tersebut, berakibat tewasnya 48 orang Militer Belanda semakin memacu semangat perjuangan rakyat Hulu Sungai Tengah untuk terus berjuang. Made Kawis dimakamkan di Taman Makam Pahlawan ALRI Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan Birayang.

Sumber : www.tuanhellowen.blogspot.com

4 comments:

Asli Urang Banua says:
October 24, 2011 at 9:16 AM

Bagus banar nah postingan'nya..

Manambah wawasan pangatahuan ulun manganai kampung halaman ulun Birayang..
he...

Bailang di blog ulun lah dangsanak..!!

serba Ser(B) says:
November 9, 2012 at 9:48 PM

makasih bang dah berbagi pengetahuan....selama sekolah kada ada pelajaran tentang sejarah kita sendiri, dalam hal ini perjuangan mempertahankan di banua kita

Siti Ayu Meridhani Caroline Putri says:
May 4, 2013 at 8:20 PM

wahhh, saya baru baca ni gan
terima kasih atas posting tentang kakek saya :)

Ifan says:
July 10, 2013 at 7:41 PM

Untuk penulis makasih banyak, ulun jadi ingat kisah arwah nini bakisah kalau laki sidin (salah satu dari batiga badingsanak) dahulu pejuang nang mati ditembak belanda, karna ada penghianat nang malapor wan belanda. Kampung sidin bahari di pantai hambawang. Kaluarga sidin ada nang di Simpang tiga Kapar - Barabai.

Post a Comment