Sunday, May 2, 2010

Satu Peristiwa Hasan Basri

1 comments

Cerita berikut merupakan kisah nyata yang pernah dituturkan oleh seorang sesepuh dalam keluarga kami (baca : nenek) yang pernah menyelamatkan Hasan Basri, yaitu Komandan Divisi IV ALRI Kalimantan (maaf kalau salah menyebut jabatan beliau) yang merupakan pahlawan kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan di era mempertahankan kemerdekaan RI.
Diceritakan pada masa itu, rumah nenek di Kampung Durian Rabung (Padang Bantung, Kandangan) merupakan tempat peristirahatan Hasan Basri jika keluar dari tempat persembunyiannya. Jadi beliau sering singgah dan sekedar melepas lelah di rumah nenek. Pada hari itu, ketika Hasan Basri berada di rumah nenek, tiba-tiba datanglah patroli pasukan Belanda ke Kampung Durian Rabung. Entah mendapatkan informasi dari mana, patroli tersebut langsung mengepung rumah nenek dan menggedor pintu meminta masuk.
Hasan Basri yang merasa menjadi target patroli mencoba melarikan diri lewat pintu belakang, namun ternyata rumah sudah dikepung rapat oleh pasukan Belanda. Dalam kebingungan mencari persembunyian, nenek mengambil lanjung (alat angkut padi yang digendong) dan menyuruh Hasan Basri untuk duduk jongkok. Kemudian nenek menutup beliau dengan lanjung.
Pasukan Belanda yang sudah masuk ke dalam rumah segera menggeledah setiap sudut rumah, tiada sedikitpun luput dari periksa Belanda kecuali lanjung tersebut yang tidak pernah diangkat. Padahal seandainya ada yang mengangkat lanjung tersebut, maka Hasan Basri tidak dapat melarikan diri. Jika ini terjadi mungkin sejarah perjuangan rakyat Kalimantan akan berubah arah. Dengan hasil tangan hampa pasukan Belanda meninggalkan rumah nenek. Peristiwa ini terjadi tidak sempat diteliti lebih jauh, apakah sebelum atau sesudah Proklamasi 17 Mei.
Entah hal apa yang membuat pasukan Belanda tidak mengangkat lanjung. Apakah memang tidak seorangpun melihat lanjung di sudut dapur, atau dalam pikiran mereka tidak mungkin seseorang mampu bersembunyi di bawah lanjung yang tertutup tersebut. Hanya Allah yang tahu.

Lanjung : alat angkut padi yang digendong berbentuk seperti limas persegi empat terpotong, terbuat dari rotan.
Hasan Basri, pangkat terakhir beliau adalah Brigadir Jenderal, meninggal sekitar tahun 1980, dimakamkan di Bundaran Liang Anggang, beliau adalah pembaca Proklamasi Rakyat Kalimantan pada tanggal 17 Mei 1948, yang isinya menyatakan bahwa Kalimantan adalah bagian dari Negara Republik Indonesia sesuai yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945. Sekarang nama beliau diabadikan sebagai nama jalan, Stadion 17 Mei, Tugu 17 Mei di Gambut (Km 17), dan banyak tempat lainnya. Semoga semangat beliau seperti yang tertulis pada makamnya Waja Sampai Kaputing, benar-benar diwarisi oleh generasi muda Kalimantan dalam mengabdikan dirinya untuk negara, bangsa dan agama. Semoga semua amal kebaikan beliau diterima Allah dan diangkat sebagai syahid yang membela negara dan agamanya. Amin.

1 comments:

sejarah says:
March 9, 2011 at 7:12 PM

ADA SALAH SATU PERTEMPURAN YANG SANGAT BERSEJARAH YANG MUNGKIN TERLUPAKAN DAN BAHKAN BRIGDJEN HASSAN BASSRY PUN SANGAT TERLIBAT DALAM PERTEMPURAN ITU YAITU PERTEMPURAN GARIS DEMARKASI DI DESA KARANG DJAWA, KANDANGAN... DST PERTEMPURAN YG BERHASIL MENEPUK MUNDUR BELANDA. BAHKAN PEJUANG2 ALRI YANG TERKENAL NAMANYA DI LAHIRKAN DAN IKUT SERTA PERTEMPURAN DALAM PERTEMPURAN ITU...

Post a Comment