Friday, May 14, 2010

Sejarah Banjar (Kalimantan Selatan)

1 comments

8000 SM :Migrasi I, Manusia ras Austrolomelanesia mendiami gua-gua di pegunungan Meratus. Ras ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong.
2500 SM : Migrasi II yaitu bangsa Melayu Proto dari pulau Formosa ke pulau Borneo yang menjadi nenek moyang suku Dayak (rumpun Ot Danum).
1500 SM : Migrasi bangsa Melayu Deutero ke pulau Borneo.
400 : Migrasi orang India (Tamil) menyebarkan agama Hindu ke Kalimantan, bersamaan dengan migrasi orang Sumatera yang membawa bahasa Melayu dan mulai tumbuhnya Bahasa Banjar Hulu.
242 - 1362 : Munculnya Kerajaan Tanjungpuri di Kahuripan (Tanjung) yang didirikan suku Melayu.
600 : Suku Dayak Maanyan melakukan migrasi ke pulau Bangka selanjutnya ke Madagaskar.
1025 : migrasi suku Melayu dari Kerajaan Sriwijaya akibat serangan tentara Cola Mandala (India).
1200 : Orang Tabalong yang berbahasa Melayu Bukit dan bahasa maayan mendiami wilayah Tabalong,
1355 : Kedatangan Empu Jatmika dan menaklukan Kerajaan Nan Sarunai pasukan yang dipimpin Aria Megatsari, seorang Menteri Penganan/Bentara Kanan atas perintah Maharaja Empu Jatmika; Empu Jatmika mendirikan pemukiman dan Candi Laras dengan pondasi tiang pancang ulin yang disebut kalang-sunduk di wilayah rawa daerah aliran sungai Tapin dan menobatkan dirinya sebagai raja Kerajaan Negara Dipa; Empu Jatmika menaklukan penduduk asli wilayah Banua Lima yaitu lima daerah aliran sungai (DAS) yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap, dan Amandit serta daerah perbukitan (Bukit), selanjutnya mendirikan Candi Agung di Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara.
1360 : Lambung Mangkurat, Patih Kerajaan Negara Dipa berangkat ke Majapahit untuk melamar Raden Putra, sebagai calon suami Putri Junjung Buih.
1362 – 1448 : berdirinya Kerajaan Negara Dwipa dengan Raja Sultan Suryanata.
1362 : Wilayah Barito, Tabalong dan Sawuku menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Hancurnya Kerajaan Nan Sarunai, kerajaan Suku Dayak Maanyan karena serangan Majapahit. Pangeran Suryanata dari Majapahit berhasil menjadi raja Negara Dipa.
1385 – 1421 : masa pemerintahan Pangeran Surya Gangga Wangsa
1421 – 1436 : masa pemerintah Raden Carang Lalean
1436 – 1448 : masa pemerintahan Putri Kalungsu
1448 : Masa Kerajaan Negara Daha, Raden Sekarsungsang menjadi Raja pertama; daerah Muara Bahan ditetapkan sebagai Bandar kerajaan di tunjuk Patih Arya Taranggana.
1448-1526 : berdirinya kerajaan Nagara Daha dengan Muara Hulak (Nagara) sebagai ibukota. Raja pertama Raden Sari Kaburangan.
1448 – 1486 : masa pemerintahan Raden Sari Kaburangan
1486 – 1515 : masa pemerintahan Maharaja Sukarama
1511 : migrasi suku melayu akibat runtuhnya Kerajaan Malaka diserang Portugis, migrant ini mendiami sepanjang sungai Kuin.
1515 : Maharaja Sukarama wafat, diwasiatkan yang menjadi raja adalah Pangeran Samudra.
1515 - 1519 : masa pemerintahan Arya Mangkubumi, arya Mangkubumi dibunuh Sa’ban atas suruhan Pangeran Tumanggung; Pangeran Samudra melarikan diri ke hilir Barito.
1519 – 1526 : masa pemerintahan Pangeran Tumanggung.
1524 : penobatan Pangeran Samudra oleh Patih Masih sebagai raja di Muara Kuin.
6 September 1526 : pertempuran antara Kerajaan Banjar dipimpin Pangeran Samudra dengan Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumenggung di Jingah Besar, Pangeran Samudra dibantu Kerajaan Demak.
24 September 1526 : kemenangan Pangeran Samudra dan pembentukan Kerajaan Banjar, dengan memasukkan Kerajaan Nagara Daha.
1526-1545 : Masa pemerintahan Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah).
24 September 1526 : Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.
1545-1570 : Masa pemerintahan Sultan Rahmatullah (Raja II) di Banjarmasin
1570-1695 : Masa pemerintahan Sultan Hidayatullah (Raja III) di Banjarmasin
1595-1620 : Masa pemerintahan Sultan Musta'inbillah (Raja IV) di Banjarmasin.
1596 : Belanda merampas 2 jung lada dari Banjarmasin yang berdagang di Kesultanan Banten.
14 februari 1606 : Ekspedisi Belanda dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin, Karena perangainya yang buruk nahkoda ini terbunuh dalam suatu kericuhan.
1612 : Belanda menembak hancur Banjar Lama (kampung Keraton) di Kuin, sehingga ibukota kerajaan dipindahkan dari Banjarmasin ke Telok Selong, Martapura.
1620 – 1637 : masa pemerintahan Sultan Inayatullah (Raja V).
1637 – 1642 : masa pemerintahan Sultan Saidulllah (Raja VI).
1638 : seorang Asisten Belanda terbunuh di Benua Anyar, pertempuran juga menewakan 64 orang bangsa Belanda, selanjutnya 27 orang Martapura terbunuh, dibalas 40 orang Belanda tewas; Sultan Tallo sebagai Mangkubumi Raja Gowa Sultan Malikussaid mengadakan perjanjian dengan Sultan Mutainbillah untuk meminjam wilayah Banjar bagian tenggara dan timur sebagai tempat berdagang suku Bugis.
1642 – 1660 : masa pemerintahan Sultan Rakyat Allah (Raja VII).
1660 – 1663 : masa pemerintahan Sultan Amrullah Bagus Kesuma (Raja VIII).
1660 : Diadakan perjanjian perdamaian antara Belanda dan Banjar; Pangeran Dipati Tuha (anak Sultan Saidullah) mengamankan wilayah Tanah Bumbu dari pendatang.
1663 – 1679 : masa pemerintahan Sultan Agung.
1664 : perubahan nama Bandarmasih menjadi Banjarmassingh (dealek Belanda).
1680 – 1700 : masa pemerintahan Sultan Amrulllah Bagus Kusuma kembali.
1700 – 1734 : masa pemerintahan Sultan Hamidullah.
1734 – 1759 : masa pemerintahan Sultan Tamjiddullah.
1733 : Puana Dekke miminjam tanah di wilayah Tanah Kusan kepada Sultan Tamjidullah I yang kelak dinamakan Pagatan.
1759 – 1761 : masa pemerintahan Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah.
1761 – 1801 : masa pemerintahan Sultan Tahmidullah.
14 Mei 1787 : Penyerangan Pangeran Amir dengan tentara Kerajaan Pasir ke Banjar, namun akhirnya Pangeran Amir (kakek Antasari) ditangkap Belanda, selanjutnya diasingkan ke Srilangka.
1801 – 1825 : masa pemerintahan Sultan Sulaiman.
1815 – 1816 : Inggris menguasai Maluka, Liang Anggang, Kurau dan Pulau Lamai dipimpin Residen Alexander Here.
1825 – 1857 : masa pemerintahan Sultan Adam Al Wasyibillah.
15 Muharam 1251 H/1825 : Pemberlakuan Undang Undang Sultan Adam (UUSA 1825).
1852 : pengangkatan Pangeran Tamjidillah II sebagai Raja Muda merangkap Mangkubumi.
30 April 1856 : Belanda menerima konsesi tambang batu bara yang ditanda tangani Sultan Adam.
9 Oktober 1856 : Pengangkatan Pangeran Hidayatullah sebagai Mangkubumi, sedangkan Raja Muda tetap Pangeran Tamjidillah II.
1 November 1857 : Sultan Adam wafat.
3 November 1857 – 25 Juni 1859 : Masa pemerintahan Sultan Tamjidillah II, kemudian Sultan yang disetujui Belanda sebagai raja Banjar.
3 November 1857 : pertemuan rencana perang melawan Belanda di Martapura, antara Pangeran Hidayatullah, Pangeran Prabu dan Ratu Kemala Sari (istri Sultan Adam).
23 Februari 1858 : Pangeran Prabu (anak Sultan Adam) dibuang ke Bandung.
September 1858 : Tumenggung Jalil tidak mau lagi membayar pajak kepada Belanda.
2 Februari 1859 : kedatangan tentara Belanda dengan Kapal Arjuna, namun 3 hari kemudian dipulangkan lagi ke Batavia.
Februari 1859 : Ratu Kemala Sari dan anak-anaknya menyerahkan kerajaan dengan Pangeran Hidayatullah.
28 April 1859. Pecahnya Perang Banjar :
- Berbekal 300 orang pasukan Antasari menyerang tambang batu bara Belanda di Pengaron.
- Serangan di Marabahan
- Serangan di Gunung Jabuk
- Serangan di Tabanio, dipimpin Demang Lehman, H. buyasin dan Kyai Langlang.
- Serangan di Pulau Petak, Pulau Telo, dan disepanjang Sungai Barito, dipimpin Tumenggung Surapati dan Pambakal Sulil
- Sweeping di Banua Lima, dipimpin Tumenggung Jalil, Pambakal Gafur, Duwahap, Dulahat, dan Penghulu Abdul Gani.
- Serangan terhadap Kapal Cipanas di Martapura
29 April 1859, tambang batu bara Oranye Nassau diserbu.
1 Mei 1859, pasukan Antasari menyerang tambang batu baru Juliana Hermina, serangan di Kalangan, Banyu Irang, dan Bangkal dipimpin Pangeran Arya Ardi Kesuma.
Juni 1859 : pertempuran di Sungai Besaran dipimpin Pambakal Sulil
8 Juni 1859 : Belanda mengumumkan keadaan darurat perang.
12 Juni 1859 : bantuan tentara Belanda datang dengan Kapal Arjuna, Celebes, Montrado, Bone, dan van Os.
14 Juni 1859 : pertemuan Pangeran Hidayat dengan Andressen, namun buntu.
15 juni 1859 : Sweeping oleh Belanda di Martapura.
17 Juni 1859 : pertempuran di Sungai Raya.
25 Juni 1859 : Sultan Tamjidillah II diturnkan secara paksa oleh Belanda, terjadi pertempuran di Cempaka.
30 Juni 1859 : serangan ke Martapura di pimpin Demang Lehman, 10 pejuang gugur.
Juli 1859 : tenggelamnya Kapal Cipanas di Pulau Kanamit.
16 Juli 1859 : Sultan Tamjidillah II di buang ke Jawa.
Agustus 1859 : serangan ke Banjarmasin dipimpin Kyai Mangun Karsa, pertempuran di benteng Tabanio, dimmpimpin Demang Lehman dan H. Buyasin.
September 1859 : pertemuan Pangeran Hidayat dengan panglima-panglima, Pangeran Hidayat dinobatkan menjadi Raja.
27 September 1859 : pertempuran di Gunung Lawak, dipimpin Demang Lehman, Aminullah, Antaludin, dan Ali Akbar.
28 September 1859 : bantuan tentara Belanda dari Surabaya.
13 November 1859 : Verspyck mengeluarkan ultimatum agar Pangeran Hidayatullah menyerah dalam 20 hari.
14 November 1859 : gugurnya Pambakal Sulil di Sungai Basaran.
23 Desember 1859 : pertempuran di Kuala Kapuas oleh suku dayak.
26 Desember 1859 : tenggelamnya Kapal Onrust oleh Tumenggung Surapati di Lontontour.
Desember 1859, Tumenggung Antaluddin bersama dengan Demang Lehman, Pangeran Aminullah, Kusin dan Ali Akbar, mempertahankan Benteng Munggu Tajur.
2 Januari 1860 : serangan terhadap Kapal van Os di Pulau Petak
9 Februari 1860 : serangan terhadap Kapal Suriname di Lontontour, kapal sampai rusak.; pertempuran Masjid Amuntai.
22 Februari 1860 ; serangan terhadap Kapal Montrado di Lontontour
31 Maret 1860 : penyerbuan Benteng Amawang dipimpin Demang Lehman.
18 Maret 1860 : pertempuran di Pamangkih, Walangku, Kasarangan, Pantai Hambawang, Barabai, dan Aluan.
15 Mei 1860 : pertempuran di Tanjung, dipimpin Tumenggung Jalil.
11 Juni 1860 : Kerajaan Banjar dihapuskan secara sepihak oleh Belanda, dengan proklamasi yang ditandatangani Residen Surakarta FN.Nieuwenhuijzen yang merangkap Komisaris Pemerintah Belanda untuk Daerah Afdeling Kalimantan Selatan-Timur.
9 Agustus 1860 : serangan terhadap Benteng Kelua, dipimpin Pangeran Antasari.
17 Agustus 1860 : Pangeran Antasari mendirikan Benteng Tabalong.
27 Agustus 1860 : serangan di Martapura dipimpin Pangeran Muda.
September 1860 : pertempuran di Rumpanang dan Tambarangan, dipimpin Singa Jaya.
3 September 1860 : Pertempuran Benteng Madang pertama, dipimpin Demang Lehman dan Tumenggung Antaludin..
4 September 1860 : pertempuran Benteng Madang kedua
13 September 1860 : pertempuran Benteng Madang ketiga
15 September 1860 : pertempuran di Sungai Malang, Amuntai, dipimpin H. Abdullah.
18 September 1860 : pertempuran Benteng Madang Keempat
22 September 1860 : pertempuran Benteng Madang kelima.
13 Oktober 1860 : pertempuran Benteng Batu Mandi, dipimpin Tumenggung Jalil.
17 Oktober 1860 : pertempuran di Jati, dipimpin Kyai Jayapati.
25 Oktober 1860 : pertempuran di Bulanin, dipimpin Demang Lehman.
27 Oktober 1860 : pertempuran di Jati lagi, dipimpin Kyai Jayapati dan Demang Jaya Negara Seman.
November 1860 : pertempuran di masjid Jati, dipimpin Tumenggung Diparaksa.
1 November 1860 : Belanda mendinamit bangkai Kapal Onrust di Lontontour.
24 Februari 1861 : pertempuran di Amalang dan Maleno, dipimpin Demang Lehman dan Guna Wijaya.
3 Maret 1861 : pertempuran di Rantau, dipimpin Jaya Warna.
19 Maret 1861 : pertempuran di Karang Intan, dipimpin Tumenggung Gamar.
21 April 1861 : Pertempuran benteng Amawang, 2 tahun Perang Banjar, dipimpin Tumenggung Antaludin dan Demang Lehman, tewasnya Von Ende.
23 April 1861 : serangan di Bincau.
April 1861 : penangkapan dan hukuman mati untuk Pangeran Kasuma Ningrat (paman Pangeran Hidayat), Kyai Nakut, dan Pambakal Matamin; pertempuran di Binuang, Tumpakan Mati, Karang Jawa, Kandangan dan Nagara..
4 Mei 1861 : Pertempuran di Paringin dipimpin pasukan Antasari, tewasnya Van der Wijck.
13 Mei 1861 : pertempuran di Gunung Wowong, Karouw, Dayu dan Sihong.
16 Mei 1861 : serangan di Paringin dipimpin H. Dulgani.
18 Mei 1861 : pertempuran di Pagat.
27 Mei 1861 : pertempuran di Barabai dipimpin Gusti Wahid.
Mei 1861 : pertempuran di Martapura, Tanah Laut, Rantau, kandangan, Barabai, Amuntai, Paringin, Tabalong dan daerah Barito.
10 Juni 1861 : pertempuran di Gunung Kupang, Awang Bangkal, dan Batu Mahalon.
18 Juni 1861 : serangan awal di Martapura.
19 Juni 1861 : pertempuran di Gunung Pamaton dipimpin Pangeran Hidayatullah.
20 Juni 1861 : pertempuran di Kuala Tambangan dipimpin Tumenggung Gamar.
22 Juni 1861 : serangan di Mataraman dan Suwatu dipimpin Pambakal Mail dan Tumenggung Buko.
3 Juli 1861 : serangan di benteng Barabai dipimpin Raksa Yuda.
18, 22, 24 Juli 1861 : pertempuran di Buntok.
Agustus 1861 : Pertempuran di Gunung Pamaton dan Gunung Halau-halau dipimpin Tumenggung Antaludin dan Kiai Cakrawati (Galuh Sarinah).
1 Agustus 1861 : pertempuran di benteng Limpasu, tewasnya Letnan Hoyyel.
10 Agustus 1861 ; pertempuran di benteng Pagger dipimpin Pangeran Singa Terbang.
2 September 1861 : pertempuran di benteng Batu Putih, gugurnya Pangeran Singa Anum dan Gusti Matali.
24 September 1861 : gugurnya Tumenggung Jalil pada pertempuran Benteng Tundakan.
2 Oktober 1861 : Demang Lehman masuk Martapura menemui Regent Martapura.
6 oktober 1861 : Demang Lehman ke Banjarmasin berunding dengan Resident Verpyck, perundingan secara empat mata, selesai perundingan rombongan kembali ke Martapura.
8 Oktober 1861 : pertempuran di Habang dan Kriniang dipimpin H. Badur
18 Oktober 1861 : pertempuran di Banua Lawas dipimpin H. Badur
Oktober 1861 : pertempuran di Banua Lawas dan Teluk Pelaeng, gugur 18 orang.
6 November 1861 : pertempuran di Pelari, dipimpin Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati.
8 November 1861 : pertempuran di Gunung Tungka dipimpin Pangeran Antasari, Tumenggung Surapati dan Gusti Umar, tewasnya Kapten Van Vloten.
9 November 1861 : serangan di Teluk Selasih, tewasnya Regent amuntai.
25 Nopember 1861 : pertemuan Pangeran Hidayatullah dengan Demang Lehman, dan diputuskan Pangeran Hidayatullah menemui Ibu Ratu Siti di Martapura.
November 1861 ; pertempuran di Gunung Marta Niti Biru dan Kria Wijaya Bepintu, dipimpin Kyai Karta Nagara.
5 Desember 1861 : pertempuran di Jatuh dipimpin Penghulu Muda, tewasnya Opsir Koch.
15 Desember 1861 : pertempuran di Banua Lawas,tewasnya Letnan Ajudan I Cateau van Rosevelt.
16 Desember 1861 : terbunuhnya Kontrolir Fujick di Margasari dan Letnan Croes juga tewas di Sungai Jaya, oleh Tagab Obang.
28 Januari 1862 : Pangeran Hidayatullah dan Ratu Siti masuk Martapura, berdiam di rumah Residen Martapura.
30 - 31 Januari 1862 : perundingan antara Pangeran Hidayatullah dengan Regent Letnan Kolonel Verpyck di pendopo rumah Asisten Resident, Pangeran Hidayatullah tertipu oleh janji Belanda.
3 Februari 1862 : Pangeran Hidayatullah menuju ke Pasayangan.
4 Februari 1862 : Pangeran Hidayatullah meninggalkan pasayangan menuju Pamaton; Masjid Pasayangan berumur 140 tahun dibakar Belanda.
22 Februari 1862 : tertangkapnya Ratu Siti; dibawanya Pangeran Wira Kusuma ke Banjarmasin.
28 februari 1862 : Pangeran Hidayatullah masuk Martapura menemui Ratu Siti di pendopo Regent Martapura.
3 Maret 1862 : Pangeran Hidayatullah dibawa dengan Kapal Bali menuju Batavia, dikawal Kontrolir Kuin Letnan Verstege.
14 Maret 1862 : Pangeran Antasari dinobatkan sebagai Panambahan Amiruddin Khalifatul Mu’minin, sebagai kepala pemerintahan, pemimpin agama, dan panglima tertinggi.
11 Oktober 1862 : wafatnya Pangeran Antasari di Tanah Kampung Bayan Begok Sampirang, Murung Raya.
1862 – 1905 : masa pemerintahan Sultan Muhammad Seman.
19 Oktober 1863 : tertangkapnya Sultan Kuning.
1864 : serangan Tumenggung Surapati di Muara Teweh dan Montallat
27 Februari 1864 : Demang Lehman dihukum gantung di lapangan Martapura.
1865 : Penghulu Rasyid gugur di Kelua, Tumenggung Naro gugur di Gunung Kayu, Balangan.
26 Januari 1866 : H. Buyasin gugur.
1867 : serangan Tagap Kurdi di Amuntai.
1870 : serangan Panglima Wangkang di Marabahan dan Banjarmasin.
1875 : wafatnya Tumenggung Surapati karena sakit.
1883 : serangan Sultan Muhammad Seman di Tanjung, Amuntai dan Balangan.
1 Juli 1883 : serangan di Lampihong.
1885 : ditangkapnya Pangeran Perbatasari di Pahu Kutai, kemudian Pangeran dibuang ke Tondano.
1886 : serangan Tumenggung Gamar di Tanah Bumbu.
1899 : Residen C.A Kroesen memimpin Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo
1899 : peristiwa Hamuk Hantarukung dipimpin Bukhari
1904 : wafatnya Pangeran Hidayatullah di Cianjur; dibuangnya Gt. Muhammad Arsyad ke Bogor.
1906 : dibuangnya Ratu Zaleha ke Bogor, berkumpul suami (Gt. Muhammad Arsyad).
24 Januari 1905 : Sultan Muhammad Seman, putra Pangeran Antasari gugur di Benteng Baras Kuning.
24 Agustus 1905 : Panglima Batur ditangkap di Muara Teweh
1915 : Sarekat Islam mendirikan Madrasah Darussalam di Martapura.
1919 : Banjarmasin mendapat otonom pemerintahan menjadi Gemeente Bandjermasin.
1923 : National Borneo Congres ke-1.
29-31 Maret 1924 : National Borneo Congres ke-2, dihadiri wakil-wakil Perserikatan Dayak dan Sarekat Islam lokal.
24 September 1924 : pembentukan Kotamadya Banjarmasin.
1927 : pemberontakan di Tabalong dipimpin Barmawi atas kerja paksa.
5 Maret 1930 : Keluarnya ketetapan no. 253 dan 254 tentang berdirinya cabang Muhammadiyah di Banjarmasin dan Alabio
1937 : kembalinya Ratu Zaleha dari pembuangan ke Martapura; pemberontakan Hariang, banua Lawas, sehingga Kepala Distrik Kyai Masdhulhak tewas.
1938 – 1942 : masa Gubernur Borneo dr. A. Haga
1938 : Wester afdeeling van Borneo, Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo menjadi sebuah propinsi di Hindia Belanda. Gemeente Bandjermasin ditingkatkan menjadi Stads Gemeente Bandjermasin.
25 Desember 1941 : Jepang membom Lapangan Terbang Ulin
21 Januari 1942 : Jepang menembak jatuh pesawat Catalina-Belanda di sungai Barito perairan Alalak, Barito Kuala,
6 Februari 1942 : pemerintahan Kalimantan vakum.
8 Februari 1942 : Jepang memasuki Muara Uya, Tabalong, Gubernur Haga mengungsi ke Kuala Kapuas menuju Puruk Cahu, Murung Raya.
10 Februari 1942 : Tentara Jepang memasuki Banjarmasin.
Februari 1942 : Dengan persetujuan walikota Banjarmasin H. Mulder dibentuk Pimpinan Pemerintahan Civil (PPC) diketuai Mr. Rusbandi, sebagai pemerintahan sementara.
12 Februari 1942 : Tentara Jepang mengeluarkan maklumat kota Bajarmasin dan daerahnya diserahkan kepada PPC (Pimpinan Pemerintahan Civil)
5 Maret 1942 : A.A Hamidhan menerbitkan surat kabar Kalimantan Raya.
17 Maret 1942 : Gubernur A. Haga menyerah dengan jepang di Puruk Cahu, kemudian ditahan di Benteng Tatas.
18 Maret 1942 : Kiai Pangeran Musa Ardi Kesuma ditunjuk Jepang sebagai Ridzie, penguasa penuh dan tertinggi pemerintah sipil meliputi wilayah Banjarmasin, Hulu Sungai dan Kapuas-Barito (Dayak Besar).
Mei 1943 : penangkapan Jepang terhadap orang-orang Belanda lalu dihukum mati.
17 April 1945 : Rakyat Banjarmasin mulai diwajibkan memberi hormat dengan membungkukkan badan kepada setiap tentara Jepang baik yang naik sepeda, mobil dan sebagainya.
6 Mei 1945 : Pembentukan TRI pasukan MN 1001, MKTI di Yogyakarta oleh Ir. Pangeran M. Noor
18 Agustus 1945 : Pemerintahan Sukarno-Hatta menunjuk Ir. H. Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernur Kalimantan
23 Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GEMIRI (Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia) di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Badan Pemberontak Rakyat Kalimantan di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
2 September 1945 – 1950 : masa Gubernur Ir. Pangeran M. Noor, Gubernur pertama.
23 September 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Pasukan Berani Mati di Alabio, Hulu Sungai Utara.
November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Laskar Syaifullah di Haruyan, Hulu Sungai Tengah.
20 November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Rakyat Pengajar/Pembela Indonesia Merdeka) di Amuntai, Hulu Sungai Utara.
1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka) di Birayang, Hulu Sungai Tengah, Barisan Pelopor Pemberontakan (BPPKL) di Martapura, Banjar dan Banteng Borneo di Rantau, Tapin serta Laskar Hasbullah di Martapura, Pelaihari, Rantau dan Hulu Sungai.
30 Oktober 1945 : penyusupan Hasan Basri dan kawan-kawan dari Jawa.
5 Desember 1945 : Pertempuran Marabahan di Barito Kuala.
24 September 1946 : penangkapan lasykar Saifullah oleh Belanda di Kandangan pada saat pasar malam.
18 November 1946 : pembentukan Batalyon TNI ALRI DIVISI IV (A) oleh Hasan Basri dengan melebur Banteng Indonesia dan organisasi kemiliteran lainnya.
Mei 1947 : pertempuran di Hambawang Pulasan, Barabai di pimpin H. Aberanie Sulaiman, 48 serdadu Belanda tewas sedangkan 1 orang pejuang gugur yaitu Made Kawis.
18 Juli 1948 : peristiwa pertempuran di Wawai, Birayang, 16 orang pejuang gugur.
Agustus 1948 : pertempuran di Hambawang Pulasan, Barabai dipimpin Aliansyah.
21 Desember 1948 : Pertempuran Hawang, Hulu Sungai Tengah.
2 Januari 1949 : Pertempuran di Negara di Hulu Sungai Selatan (Palagan Nagara).
7 Januari 1949 : pembentukan Panitia Persiapan Proklamasi Kalimantan, dengan ketua H. Aberanie Sulaiman.
6 Februari 1949 : Pertempuran Pagatan di Tanah Bumbu.
14 Februari 1949 : pertempurang di Batu Tangga, Birayang, 2 orang pejuang gugur.
15 Mei 1949 : Perumusan teks proklamasi di Telaga Langsat, dipimpin H. Aberanie Sulaiman.
17 Mei 1949 : Proklamasi Kalimantan oleh Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan Letkol. Hasan Basry
3 Juni 1949 : Pertempuran Serangan Umum Kota Tanjung di Tabalong.
15 April 1949 : Pertempuran Batakan di Tanah Laut.
8 Agustus 1949 : Pertempuran Garis Demarkasi di Karang Jawa, Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
2 September 1949 : perundingan antara TNI ALRI DIVISI (A) yaitu Hasan Basri dengan Belanda diwakili Jenderal Mayor Suharjo dan UNCI sebagai penengah di Munggu Raya, Kandangan.
2 September 1949 : pengakuan Angkatan Perang Republik Indonesia terhadap TNI ALRI DIVISI (A) sebagai bagian dari angkatan perang dan mengangkat Hasan Basri sebagai Komandan Batalyon dengan pangkat Letnan Kolonel.
1 November 1949 : peleburan TNI ALRI DIVISI (A) ke dalamTNI Angkatan Darat Divisi Lambung Mangkurat, dengan panglima Letkol Hasan Basri dan Kepala Staf Mayor H. Aberani Sulaiman.
9 November 1949 : Pertempuran di Banjarmasin.
01 Juni 1950 : pembentukan Kabupaten Kotabaru.
14 Agustus 1950 : pembentukan Propinsi Kalimantan; pembentukan Kabupaten Banjar.
14 Agustus 1950 – 1953 : masa Gubernur dr. Mordjani
2 Desember 1950 : pembentukan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dengan Bupati Syarkawi.
2 Mei 1952 : berdirinya Kabupaten Amuntai.
1953 – 1955 : masa Gubernur Mas Subardjo.
2-3 September 1953 : musyawarah tokoh-tokoh untuk pembentukan Kabupaten Barabai.
24 September 1953 : wafatnya Ratu Zaleha.
14 Januari 1953 : Perubahan nama Kabupaten Amuntai menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara.
23 September 1953 : Wafatnya Ratu Zaleha, putri Sultan Muhammad Seman, sebelumnya diasingkan di Cianjur.
11 Januari 1954 : turun gunungnya Bulan Jihad (sahabat Ratu Zaleha) dari pedalaman Kalimantan.
4 April 1954 : pembentukan Panitia Penuntutan Kabupaten Barabai di rumah Asisten Wedana Abdul Muis Ridhani, ditunjuk sebagai ketua adalah A. Zaini.
1955 – 1957 : masa Gubernur Raden Tumenggung Arya Milono.
7 Desember 1956 : Terbentuknya Provinsi Kalimantan Selatan yaitu gabungan dari Kotawaringin, Dayak Besar, Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara. Belakangan Pasir (bagian Federasi Kalimantan Tenggara) bergabung ke provinsi Kalimantan Timur.
1957 : pembentukan Propinsi Kalimantan Selatan dari hasil pemekaran.
1957 – 1959 : masa Gubernur Syarkawi.
23 Mei 1957 : Wilayah Kotawaringin dan Dayak Besar membentuk provinsi Kalimantan Tengah.
1958 : musyawarah masyarakat Tapin di Balai Rakyat menghasilkan Badan Musyawarah Penuntut Kabupaten Tapin, yang diketuai H Isbat
15 Maret 1958 : pembentukan Panitia Penuntutan Kabupaten Tabalong dengan ketua Juhri.
11 November 1958 : Pengangkatan kerangka Pangeran Antasari untuk dimakamkan di Komplek Makam Pahlawan Perang Banjar di Banjarmasin.
1959 – 1963 : masa Gubernur Maksid.
24 Desember 1959 : pembentukan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
4 Januari 1960 : pembentukan Kabupaten Barito Kuala.
22 Agustus 1960 : pembekuan kegiatan PKI dan ormasnya oleh Kepala Penguasa Perang Daerah kalsel Brigjen Hasan Basri.
3 Juni 1961 : pembentukan Panitia Penuntutan Kabuapaten Tanah Laut (Panitia 17), dengan ketua Soeparjan.
1-2 Juli 1961 : musyawarah besar Tanah Laut menghasilkan pembentukan Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Tuntutan Daswati II Tanah Laut yang diketuai H. M. N. Manuar.
1963 – 1963 : masa Gubernur Abu Jahid Bustami.
1963 – 1968 : masa Gubernur Aberani Sulaiman.
30 November 1965 : pembentukan Kabupaten Tapin.
1 Desember 1965 : pembentukan Kabupaten Tabalong.
02 Desember 1965 : pembentukan Kabupaten Tanah Laut.
1968 – 1970 : masa Gubernur Jasmani.
23 Maret 1968 : pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Pangeran Antasari.
1970 – 1980 : masa gubernur Subarjo Sosroroyo.
15 Januari 1979 : wafatnya Ir. Pangeran M. Noor, Gubernur Kalimantan pertama dimakamkan di Jakarta.
1980 – 1984 : masa Gubernur Mistar Cokrokusumo.
1984 – 1995 : masa Gubernur Ir. H.M. Said.
15 Juli 1984 : wafatnya Brigjen Hasan Basri, dimakamkan di Liang Anggang, Banjarbaru
10 November 1991 : Peresmian Museum Wasaka oleh Gubernur Kalsel Ir. H. Muhammad Said.
1995 – 2000 : masa Gubernur Gusti Hasan Aman.
23 Mei 1997 : Peristiwa Jumat Kelabu di Banjarmasin, kampanye pemilu yang berakhir kerusuhan bernuansa SARA (partai).
2000 – 2005 : masa Gubernur Syahriel Darham.
20 April 2000 : pembentukan kota Banjarbaru.
3 November 2001 : pemberian gelar Pahlawan kemerdekaan untuk Brigjen Hasan Basri.
8 April 2006 : pembentukan Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu.
2005 - 2010 : masa Gubernur Rudy Ariffin.

1 comments:

banuahujungtanah says:
December 31, 2010 at 1:31 AM

Umpat manjanguk ampun dangsanak.
Alhamdulillah, luar biasa dan salut

Post a Comment